+6011-3432 0333

Terapi Radiasi

Apa Itu Terapi Radiasi

Terapi radiasi adalah sebuah pengobatan kanker tanpa rasa sakit dan menggunakan partikel atau gelombang berenergi tinggi, seperti x-ray, sinar gamma, sinar elektron atau proton untuk membunuh atau menyusutkan sel-sel kanker.

Terapi radiasi merusak DNA dalam sel kanker yang mengendalikan pertumbuhan sel yang mengakibatkan sel menjadi mati. Walaupun sel-sel sehat dan sel-sel kanker rusak oleh terapi radiasi, tujuannya untuk menghancurkan sel-sel sehat sesedikit mungkin melalui sasaran radiasi yang tepat selama pengobatan. Kerusakan potensial pada sel-sel normal diperhitungkan ketika merencanakan cara pengobatan dengan memahami jumlah radiasi yang dapat diterima oleh jaringan normal dengan aman sehingga meminimalkan efek samping yang potensial. Seringkali terapi radiasi digabungkan dengan kemoterapi untuk hasil yang lebih baik. Radiasi diantarkan melalui sebuah mesin yang terletak di luar tubuh kita (terapi radiasi sinar-eksternal), atau berasal dari bahan radioaktif yang diletakkan pada tubuh dekat dengan sel-sel kanker (terapi radiasi Brakhiterapi). Terapi radiasi sistemik menggunakan bahan radioaktif yang melintas dalam darah untuk membunuh sel-sel kanker.

Radiasi dapat digunakan untuk mengobati atau menyusutkan kanker stadium awal (radioterapi kuratif) untuk menghentikan kanker kambuh kembali atau mengobati gejala-gejala yang disebabkan oleh kanker stadium lanjut (radioterapi paliatif). Radiasi dapat juga dikombinasikan dengan kemoterapi (kemoradiasi) atau sebelum pembedahan (radioterapi neoadjuvant) sebagai perawatan sinergis. Ahli onkologi menentukan jenis radioterapi bergantung pada faktor-faktor, seperti : jenis dan ukuran kanker, lokasi kanker, kondisi kesehatan pasien dan banyak lagi.

Jenis-jenis radioterapi

  1. Radioterapi Eksternal (radiasi sinar eksternal)
    Radioterapi eksternal diantar melalui sebuah mesin di mana sinar langsung difokuskan pada tumor. Akselerator linier (juga dikenal dengan kasus LINAC) menggunakan listrik untuk membentuk aliran partikel subatomik yang bergerak cepat untuk membunuh sel-sel kanker. Modalitas lain dari radiasi sinar eksternal termasuk Intensity Modulated Radiation Therapy (IMRT), Image Guided Radiation Therapy (IGRT), Tomoterapi, Bedah radiasi Stereotaktik (SRS) dan Terapi Proton. 
  2. Terapi Radioisotop (radioterapi sistemik)
    Terapi radiasi sistemik mengharuskan pasien untuk menerima suntikan atau menelan zat radioaktif atau zat radioaktif yang terikat pada antibodi monoklonal yang dapat melakukan perjalanan ke seluruh tubuh. Yodium radioaktif adalah sebuah radiasi sistemik yang umumnya dilakukan untuk mengobati kanker tiroid tertentu. Antibodi monoklonal digabungkan dengan zat radioaktif membantu untuk merencanakan, menemukan dan membunuh sel-sel kanker. Obat radioaktif seperti samarium-153-lexifronam (Quadramet) dan strontium-89 chloride (Metastron) merupakan jenis terapi radiasi paliatif.

    Di Pusat Kanker Rumah Sakit Beacon, sebuah sistem bernama LINAC bertugas untuk menjalankan Intensity Modulated Radiation Therapy (IMRT) dan Image Guided Radiotherapy (IGRT). Ini merupakan metode terbaru dalam mengantarkan terapi radiasi dengan cara yang sangat tepat. Ia mempunyai kelebihan dalam mengobati kanker dengan radiasi dosis tinggi sambil menyelamatkan sel atau jaringan normal sehingga mengurangi komplikasi atau efek samping akibat pengobatan. Sistem LINAC membolehkan IMRT dan IGRT untuk disesuaikan bagi mengobati tumor berbagai bentuk dan pada lokasi yang berbeda dalam tubuh.

    Efek samping terapi radiasi

    Efek samping dari terapi radiasi bergantung pada lokasi bagian yang diobati, dosis radiasi, durasi pengobatan, kondisi kesehatan pasien secara keseluruhan dan pengobatan lain yang diberikan pada waktu bersamaan. 

    Efek samping terbagi menjadi:

    • Awal (akut) 
    • Efek samping yang terlambat (kronis) 
    • Dapat diprediksi dan diharapkan. 

    Efek samping akut disebabkan oleh kerusakan pada sel normal yang membelah dengan cepat di daerah yang sedang dirawat. Hal ini termasuk iritasi kulit, rambut gugur, masalah yang berkaitan dengan air seni, sariawan pada mulut dan tenggorokan dan juga kerusakan pada kelenjar air liur. Efek samping kronis berlangsung bulan hingga tahun setelah pengobatan dan sering terlokalisasi pada daerah yang diobati, contoh efek samping kronis adalah :

    • fibrosis (luka pada jaringan)
    • penurunan kognitif
    • mandul
    • kerusakan pada usus ( radiasi enteritis) 
    • kanker sekunder

    Pencarian Konsultan