
Seruan Aksi Global 2018 mengenai Fraktur Kerapuhan menekankan kebutuhan mendesak untuk meningkatkan perawatan akut, rehabilitasi, dan pencegahan fraktur sekunder di seluruh dunia—sebuah prioritas yang kini didukung luas di berbagai bidang spesialisasi medis.
Sebagai respons, Dato’ Dr Lee Joon Kiong, Konsultan Ahli Bedah Ortopedi, berkontribusi dalam penyusunan makalah posisi untuk menetapkan dan menstandarisasi Bone Health Optimisation (BHO) bagi pasien lanjut usia yang menjalani operasi ortopedi elektif di Malaysia, khususnya penggantian sendi dan prosedur tulang belakang.
Osteoporosis dan osteopenia umum terjadi pada pasien bedah lanjut usia dan secara signifikan meningkatkan risiko seperti fraktur periprostetik, pelonggaran implan, serta komplikasi tulang belakang. BHO mengubah pendekatan perawatan ortopedi dari penanganan reaktif menjadi penguatan tulang yang proaktif, sehingga meningkatkan hasil operasi dan proses pemulihan.
Dikembangkan dari tinjauan literatur komprehensif (2019–2024), kerangka BHO mencakup 12 tema utama yang meliputi penilaian risiko, strategi manajemen, dan pengukuran hasil. Rekomendasi utama mencakup penilaian kesehatan tulang secara rutin pada fase pra-operasi, intra-operasi, dan pasca-operasi, penerapan pendekatan standar klinis “5IQ” yang didukung oleh 18 indikator kinerja utama, serta pembentukan Registri BHO Malaysia untuk benchmarking secara real-time dan peningkatan kualitas nasional.
Kerangka ini menandai perubahan paradigma—dari memperbaiki tulang menjadi memperkuatnya terlebih dahulu. Dengan kolaborasi multidisiplin, standar yang jelas, dan pengawasan nasional, BHO menyediakan panduan praktis menuju tindakan bedah yang lebih aman, komplikasi yang lebih sedikit, serta hasil jangka panjang pasien yang lebih baik.
Info Lanjut : PubMed
